kuning rumah sakit
Kuning Rumah Sakit: Understanding Hospital-Acquired Jaundice
Penyakit kuning, yang ditandai dengan menguningnya kulit dan bagian putih mata (sklera), adalah gejala umum yang menunjukkan adanya kondisi medis yang mendasarinya. Meskipun sering dikaitkan dengan gangguan hati, penyakit kuning juga dapat berkembang di rumah sakit, yang di beberapa daerah disebut “kuning rumah sakit”, yang mencerminkan penyakit kuning yang didapat di rumah sakit atau penyakit kuning nosokomial. Artikel ini membahas penyebab, diagnosis, dan penanganan penyakit kuning yang timbul selama dirawat di rumah sakit.
Penyebab Penyakit Kuning yang Didapat di Rumah Sakit
Etiologi kuning rumah sakit beragam, sering kali berasal dari kondisi yang memerlukan rawat inap atau komplikasi yang timbul dari intervensi medis. Memahami penyebab spesifiknya sangat penting untuk pengobatan yang efektif.
-
Cedera Hati Akibat Obat (DILI): Obat-obatan merupakan kontributor signifikan terhadap penyakit kuning yang didapat di rumah sakit. Banyak obat, bahkan yang biasa diresepkan, dapat menyebabkan kerusakan hati, menyebabkan peningkatan kadar bilirubin dan penyakit kuning. Contohnya termasuk antibiotik tertentu (misalnya amoksisilin-klavulanat, eritromisin), obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), dan bahkan asetaminofen (parasetamol) bila dikonsumsi dalam dosis berlebihan. Mekanismenya berbeda-beda; beberapa obat menyebabkan hepatotoksisitas langsung, sementara obat lain memicu respons yang dimediasi kekebalan. Mengidentifikasi obat penyebab dan menghentikan penggunaannya adalah hal yang terpenting.
-
Sepsis: Infeksi sistemik, khususnya sepsis, dapat berdampak signifikan terhadap fungsi hati. Cedera hati akibat sepsis ditandai dengan kolestasis (gangguan aliran empedu) dan kerusakan hepatoseluler. Mediator inflamasi yang dilepaskan selama sepsis mengganggu transportasi empedu dan mengganggu fungsi sel hati, menyebabkan peningkatan bilirubin dan penyakit kuning. Tingkat keparahan penyakit kuning sering kali berkorelasi dengan tingkat keparahan sepsis. Penatalaksanaan berfokus pada pengobatan infeksi yang mendasarinya dengan antibiotik dan memberikan perawatan suportif pada hati.
-
Nutrisi Parenteral Total (TPN): Pasien yang menerima TPN, terutama dalam jangka waktu lama, berisiko terkena penyakit hati terkait TPN (TPN-ALD). Kondisi ini ditandai dengan kolestasis dan dapat berkembang menjadi steatosis (perlemakan hati) dan bahkan fibrosis. Mekanisme pastinya rumit tetapi melibatkan perubahan metabolisme asam empedu, disbiosis mikrobioma usus, dan kurangnya stimulasi enteral pada sistem pencernaan. Strategi untuk memitigasi TPN-ALD termasuk pemberian TPN secara bersepeda, memberikan nutrisi enteral minimal, dan menggunakan emulsi lipid dengan proporsi asam lemak omega-3 yang lebih tinggi.
-
Hemolisis Terkait Transfusi: Transfusi darah, meskipun dapat menyelamatkan nyawa, terkadang dapat menyebabkan reaksi hemolitik. Reaksi ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh penerima menyerang sel darah merah yang ditransfusikan, menyebabkan kerusakannya dan melepaskan bilirubin ke dalam aliran darah. Golongan darah yang tidak cocok adalah penyebab paling umum dari hemolisis terkait transfusi. Penggolongan darah yang cermat dan pencocokan silang sangat penting untuk mencegah komplikasi ini. Penatalaksanaannya meliputi penghentian transfusi, pemberian perawatan suportif, dan, pada kasus yang parah, pemberian obat untuk menekan respons imun.
-
Kolestasis Pasca Operasi: Setelah operasi besar, terutama operasi perut atau saluran empedu, pasien mungkin mengalami kolestasis pasca operasi. Kondisi ini ditandai dengan gangguan aliran empedu akibat faktor seperti anestesi, trauma bedah, dan penggunaan obat-obatan tertentu. Hipotensi intraoperatif dan penurunan perfusi hati juga dapat berkontribusi. Penatalaksanaan berfokus pada mengatasi komplikasi bedah yang mendasarinya, mengoptimalkan keseimbangan cairan, dan mempertimbangkan pengobatan untuk merangsang aliran empedu.
-
Eksaserbasi Penyakit Hati yang Mendasari: Pasien dengan penyakit hati yang sudah ada sebelumnya, seperti hepatitis kronis, sirosis, atau penyakit hati berlemak non-alkohol (NAFLD), lebih rentan terkena penyakit kuning selama dirawat di rumah sakit. Stres akibat penyakit, pengobatan, dan prosedur dapat memperburuk penyakit hati yang mendasarinya, sehingga menyebabkan peningkatan kadar bilirubin.
-
Obstruksi Bilier: Obstruksi saluran empedu, yang disebabkan oleh batu empedu, tumor, atau penyempitan, dapat menyebabkan penyakit kuning kolestatik. Pasien yang dirawat di rumah sakit mungkin mengalami obstruksi saluran empedu karena komplikasi dari kondisi yang ada atau akibat prosedur medis, seperti endoskopi retrograde cholangiopancreatography (ERCP).
-
Hipotensi dan Syok: Tekanan darah rendah atau syok yang berkepanjangan dapat menyebabkan hepatitis iskemik, suatu kondisi yang ditandai dengan kerusakan hati akibat aliran darah yang tidak memadai. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan kadar bilirubin dan penyakit kuning.
Diagnosis Penyakit Kuning yang Didapat di Rumah Sakit
Evaluasi diagnostik menyeluruh sangat penting untuk menentukan penyebab penyakit kuning yang didapat di rumah sakit. Ini biasanya melibatkan kombinasi dari:
-
Riwayat Kesehatan dan Pemeriksaan Fisik: Tinjauan rinci tentang riwayat kesehatan pasien, termasuk kondisi yang sudah ada sebelumnya, obat-obatan, dan prosedur terkini, sangatlah penting. Pemeriksaan fisik harus fokus untuk mengidentifikasi tanda-tanda penyakit hati, seperti hepatomegali (pembesaran hati), splenomegali (pembesaran limpa), asites (penumpukan cairan di perut), dan spider angioma.
-
Tes Fungsi Hati (LFT): LFT adalah panel tes darah yang menilai fungsi hati. LFT utama meliputi:
- Bilirubin: Mengukur kadar bilirubin total, langsung (terkonjugasi), dan tidak langsung (tak terkonjugasi). Peningkatan kadar bilirubin menunjukkan penyakit kuning.
- Alanine Aminotransferase (ALT) dan Aspartat Aminotransferase (AST): Enzim-enzim ini dilepaskan ke aliran darah ketika sel-sel hati rusak. Peningkatan kadar ALT dan AST menunjukkan adanya cedera hepatoseluler.
- Alkaline Phosphatase (ALP) dan Gamma-Glutamyl Transferase (GGT): Enzim-enzim ini meningkat pada kondisi kolestatik.
- Albumin: Protein yang diproduksi oleh hati. Kadar albumin yang rendah dapat mengindikasikan penyakit hati kronis.
- Waktu Protrombin (PT) dan Rasio Normalisasi Internasional (INR): Tes-tes ini mengukur kemampuan hati untuk memproduksi faktor pembekuan. PT/INR yang berkepanjangan dapat mengindikasikan disfungsi hati.
-
Studi Pencitraan: Studi pencitraan seringkali diperlukan untuk memvisualisasikan hati, saluran empedu, dan organ perut lainnya. Modalitas pencitraan yang umum meliputi:
- USG: Teknik pencitraan non-invasif yang dapat mendeteksi batu empedu, obstruksi saluran empedu, dan massa hati.
- Pemindaian Tomografi Terkomputasi (CT): Memberikan gambaran rinci tentang hati, saluran empedu, dan struktur sekitarnya.
- Pencitraan Resonansi Magnetik (MRI): Menawarkan resolusi jaringan lunak yang unggul dan dapat digunakan untuk mengevaluasi massa hati dan kelainan empedu.
- Kolangiopankreatografi Retrograde Endoskopi (ERCP): Prosedur yang melibatkan memasukkan endoskopi ke dalam saluran empedu dan saluran pankreas. ERCP dapat digunakan untuk mendiagnosis dan mengobati obstruksi saluran empedu.
-
Biopsi Hati: Dalam beberapa kasus, biopsi hati mungkin diperlukan untuk mendapatkan sampel jaringan untuk pemeriksaan mikroskopis. Biopsi hati dapat membantu menentukan penyebab spesifik kerusakan hati dan menilai tingkat keparahan penyakit.
-
Serologi Hepatitis Virus: Pengujian virus hepatitis A, B, dan C sangat penting untuk menyingkirkan virus hepatitis sebagai penyebab penyakit kuning.
-
Penanda Autoimun: Dalam kasus yang diduga penyakit hati autoimun, penanda autoimun seperti antibodi antinuklear (ANA), antibodi anti-otot polos (ASMA), dan antibodi anti-mitokondria (AMA) dapat diuji.
Penatalaksanaan Penyakit Kuning yang Didapat di Rumah Sakit
Penatalaksanaan penyakit kuning yang didapat di rumah sakit bergantung pada penyebab yang mendasarinya. Prinsip umum meliputi:
-
Mengatasi Penyebab yang Mendasari: Fokus utamanya adalah mengobati kondisi mendasar yang menyebabkan penyakit kuning. Hal ini mungkin melibatkan penghentian obat-obatan yang mengganggu, mengobati infeksi, menghilangkan penyumbatan saluran empedu, atau menangani penyakit hati yang mendasarinya.
-
Perawatan Suportif: Perawatan suportif sangat penting untuk menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit, memberikan nutrisi yang cukup, dan mencegah komplikasi.
-
Penatalaksanaan Pruritus: Penyakit kuning dapat menyebabkan pruritus (gatal). Emolien topikal, antihistamin, dan obat-obatan seperti kolestiramin atau asam ursodeoksikolat dapat membantu meredakan pruritus.
-
Dukungan Nutrisi: Pasien dengan penyakit hati mungkin memerlukan dukungan nutrisi khusus. Diet rendah sodium mungkin diperlukan untuk mengatasi asites.
-
Pemantauan: Pemantauan ketat terhadap tes fungsi hati dan parameter relevan lainnya sangat penting untuk menilai respons terhadap pengobatan.
-
Terapi Khusus: Terapi khusus mungkin diindikasikan tergantung pada penyebab penyakit kuning. Misalnya, kortikosteroid dapat digunakan untuk mengobati hepatitis autoimun, dan obat antivirus dapat digunakan untuk mengobati hepatitis virus. Dalam kasus obstruksi bilier, ERCP dengan pemasangan stent mungkin diperlukan untuk meringankan obstruksi tersebut.
Penyakit kuning yang didapat di rumah sakit menghadirkan tantangan klinis yang kompleks, memerlukan pendekatan sistematis dalam diagnosis dan penatalaksanaannya. Dengan memahami potensi penyebab dan menerapkan intervensi yang tepat, dokter dapat meningkatkan hasil bagi pasien yang mengalami penyakit kuning selama mereka dirawat di rumah sakit.

